Selasa, disiang yang sangat panas menjelang waktu zuhur aku
duduk dibawah pohon. Menikmati buaian angin sepoi untuk menghapus keringat yang
keluar melalui pori kulit. “Alhamdulillah, betapa sejuknya angin ini”. Bisikku dalam
hati. Setalah berjalan dibawah terik yang sangat panas, hembusan angin ini
terasa seperti tiupan angin surga.
Mataku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mobil-mobil
yang terparkir sudah mulai meninggalkan lapangan bola yang hari ini dijadikan
arena parkir dadakan. Iya, hari ini adalah hari istimewa bagi
mahasiswa-mahasiswi yang sudah berupaya maksimal untuk menyelesaikan
skripsinya. Perhelatan akbar, acara wisuda satu-satunya universitas negeri di kotaku.
Sampah-sampah berserakan di atas rumput-rumput yang sudah
mulai tumbuh kembali. Setelah sekian bulan rerumputan menguning karena tak ada
hujan yang menyiraminya. Mulai dari sampah plastic, bungkus es krim, kertas-kertas
nasi dan sisa-sisa buah. Ah… kebiasaan yang masih melekat pada kebanyakan
orang. Membuang sampah sembarangan.
Pada acara wisuda, hanya ada 2 orang pendamping yang bisa
memasuki ruangan tempat acara. Sisanya, rombongan keluarga yang ikut untuk
merayakan acara tersebut menunggu di luar. Duduk menunggu di taman, jalan-jalan
atau hanya berdiam di mobil. Nah, rombongan keluarga ini lah yang memproduksi
sampah-sampah yang berserakan di jalan, taman dan tempat parkir. Karena kebiasaan
yang terjadi di kotaku adalah pada setiap acara wisuda, wisudawan atau
wisudawati tidak hanya didampingi oleh kedua orang tua, tetapi keluarga besar
juga akan ikut menghadiri acara tersebut walau hanya menunggu di luar. Setelah acara
selesai, barulah mereka akan merayakan acara ke pantai atau tempat lainnya.
Sambil bercakap dengan kawanku, aku menyandarkan tubuhku di
tembok. Menghirup angin sepoi dari pohon rindang di dekatku. Entahlah, aku
tidak tahu nama pohon besar ini. Kemungkinan pohon ini adalah pohon sengon. Tetapi
usia pohon ini mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun, jadi aku ragu kalau ini
adalah pohon sengon.
Baru beberapa menit kami menikmati angin ini, seorang
pemulung tua berhenti di depan kami. Memungut sampah-sampah plastic dan
memasukkannya kedalam karung besar yang dibawanya. Aku masih asyik menikmati
hembusan angin surge ini. Sedangkan Echi, bangkit dari duduknya dan mendekati
perempuan tua ini. Echi adalah nama yang sedang bersamaku kini.
Tangan Echi mulai mengambil sampah-sampah plastic dan
memasukkannya kedalam karung perempuan tua itu. Sedangkan aku masih bersandar
di tembok dan kini mataku melihat ke arah mereka. Setalah sampah plastic yang
disekitar mereka telah habis, Echi mulai bercakap-cakap dengan perempuan tua
itu. Walau pun jarak kami hanya beberapa meter, tetapi aku tidak mendengar
percakapan mereka. Mereka terlihat akrab dan saling tersenyum (inilah gaya khas
Echi. Ia sangat ramah kepada setiap orang).
Saat perempuan tua itu bangun, Echi mengambil tangannya dan memberikan Sesuatu
yang aku yakini itu adalah uang. Perempuan itu menolk dengan halus, tetapi Echi
terus saja menyodorkan uang itu kepadanya. Sampai akhirnya perempuan tua itu
mengambilnya dan dari mulutnya keluar kalimat yang sangat jelas terbaca olehku.
“Terima kasih” ucapnya sambil tersenyum. Echi hanya mengangguk dan tersenyum
melepas kepergian perempuan tua itu.
Tiba-tiba aku merasa kasihan kepada diriku sendiri. Echi,
seorang yang terlahir sebagai piatu dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan
sangat mudah memberi. Ia sangat ringan tangan. Selalu memberi walau pun tidak
diminta. Hatinya sangat sensitive jika melihat seorang pemulung atau pengemis
yang sering kami lewati. Sedangkan aku??? Sangat jarang memberi. Bahkan mungkin
tidak pernah.
Aku yang telah diberi kecukupan olehNya seperti lupa
bersyukur. Semua nikmat yang tak bisa terhitung tak pernah aku syukuri. Orang tuaku
masih lengkap. Keadaan ekonomiku cukup. Aku sudah bekerja dengan salary yang
lumayan besar. Semua nikmat itu membuat aku abai dan lupa untuk melihat kepada
sekitarku.
Semakin banyak yang Dia beri kepadaku, membuat tanganku
semakin erat menggenggam. Semakin encer otakku untuk mengkalkulasikan nominal-nominal
yang kini aku genggam erat, hingga untuk memberi pun aku masih menggunakan
kalkulator cipataan manusia yang jika dikurangi hasilnya akan semakin sedikit.
Aku termenung melihat kejadian di depan mataku. Seorang teman
yang sangat tangguh karena telah berhasil melewati berbagai cobaan besar yang
dilaluinya memberi kepada seorang yang tak dikenalnya. Memberi dengan ikhlas
dan dengan senyum tulus. Padahal aku sangat tahu bagaimana kondisi ekonominya
saat ini.
Oh Allah. Bagaimana denganku? Sudahkah aku memberi setulus
itu?? Bahkan untuk melemparkan senyuman kepada para pemulung atau pengemis pun
aku tak pernah.
Aku malu. Aku malu kepada diriku sendiri. Malu kepada
temanku. Bahkan aku sangat malu kepadaMu. Engkau telah memberiku cukup, tetapi
aku selalu merasa kurang dan semakin menggenggam lagi dan lagi.
Kini, Engkau memperlihatkan kepadaku betapa tulusnya seorang
yang hampir tak punya berbagi dengan tulus dan ikhlas kepada orang lain. Engkau
memparku dengan kejadian ini. Menamparku dengan RahmanMu. Sangat lembut, hingga
bukan sakit yang kurasa. Tetapi aku merasa malu dengan semua yang Kau beri.