Minggu, 30 Oktober 2016

Engkau Menamparku dengan Sangat Lembut



Selasa, disiang yang sangat panas menjelang waktu zuhur aku duduk dibawah pohon. Menikmati buaian angin sepoi untuk menghapus keringat yang keluar melalui pori kulit. “Alhamdulillah, betapa sejuknya angin ini”. Bisikku dalam hati. Setalah berjalan dibawah terik yang sangat panas, hembusan angin ini terasa seperti tiupan angin surga.

Mataku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mobil-mobil yang terparkir sudah mulai meninggalkan lapangan bola yang hari ini dijadikan arena parkir dadakan. Iya, hari ini adalah hari istimewa bagi mahasiswa-mahasiswi yang sudah berupaya maksimal untuk menyelesaikan skripsinya. Perhelatan akbar, acara wisuda  satu-satunya universitas negeri di kotaku.

Sampah-sampah berserakan di atas rumput-rumput yang sudah mulai tumbuh kembali. Setelah sekian bulan rerumputan menguning karena tak ada hujan yang menyiraminya. Mulai dari sampah plastic, bungkus es krim, kertas-kertas nasi dan sisa-sisa buah. Ah… kebiasaan yang masih melekat pada kebanyakan orang. Membuang sampah sembarangan.

Pada acara wisuda, hanya ada 2 orang pendamping yang bisa memasuki ruangan tempat acara. Sisanya, rombongan keluarga yang ikut untuk merayakan acara tersebut menunggu di luar. Duduk menunggu di taman, jalan-jalan atau hanya berdiam di mobil. Nah, rombongan keluarga ini lah yang memproduksi sampah-sampah yang berserakan di jalan, taman dan tempat parkir. Karena kebiasaan yang terjadi di kotaku adalah pada setiap acara wisuda, wisudawan atau wisudawati tidak hanya didampingi oleh kedua orang tua, tetapi keluarga besar juga akan ikut menghadiri acara tersebut walau hanya menunggu di luar. Setelah acara selesai, barulah mereka akan merayakan acara ke pantai atau tempat lainnya.

Sambil bercakap dengan kawanku, aku menyandarkan tubuhku di tembok. Menghirup angin sepoi dari pohon rindang di dekatku. Entahlah, aku tidak tahu nama pohon besar ini. Kemungkinan pohon ini adalah pohon sengon. Tetapi usia pohon ini mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun, jadi aku ragu kalau ini adalah pohon sengon.

Baru beberapa menit kami menikmati angin ini, seorang pemulung tua berhenti di depan kami. Memungut sampah-sampah plastic dan memasukkannya kedalam karung besar yang dibawanya. Aku masih asyik menikmati hembusan angin surge ini. Sedangkan Echi, bangkit dari duduknya dan mendekati perempuan tua ini. Echi adalah nama yang sedang bersamaku kini.

Tangan Echi mulai mengambil sampah-sampah plastic dan memasukkannya kedalam karung perempuan tua itu. Sedangkan aku masih bersandar di tembok dan kini mataku melihat ke arah mereka. Setalah sampah plastic yang disekitar mereka telah habis, Echi mulai bercakap-cakap dengan perempuan tua itu. Walau pun jarak kami hanya beberapa meter, tetapi aku tidak mendengar percakapan mereka. Mereka terlihat akrab dan saling tersenyum (inilah gaya khas Echi. Ia sangat ramah kepada setiap orang).  Saat perempuan tua itu bangun, Echi mengambil tangannya dan memberikan Sesuatu yang aku yakini itu adalah uang. Perempuan itu menolk dengan halus, tetapi Echi terus saja menyodorkan uang itu kepadanya. Sampai akhirnya perempuan tua itu mengambilnya dan dari mulutnya keluar kalimat yang sangat jelas terbaca olehku. “Terima kasih” ucapnya sambil tersenyum. Echi hanya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian perempuan tua itu.

Tiba-tiba aku merasa kasihan kepada diriku sendiri. Echi, seorang yang terlahir sebagai piatu dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan sangat mudah memberi. Ia sangat ringan tangan. Selalu memberi walau pun tidak diminta. Hatinya sangat sensitive jika melihat seorang pemulung atau pengemis yang sering kami lewati. Sedangkan aku??? Sangat jarang memberi. Bahkan mungkin tidak pernah.

Aku yang telah diberi kecukupan olehNya seperti lupa bersyukur. Semua nikmat yang tak bisa terhitung tak pernah aku syukuri. Orang tuaku masih lengkap. Keadaan ekonomiku cukup. Aku sudah bekerja dengan salary yang lumayan besar. Semua nikmat itu membuat aku abai dan lupa untuk melihat kepada sekitarku.

Semakin banyak yang Dia beri kepadaku, membuat tanganku semakin erat menggenggam. Semakin encer otakku untuk mengkalkulasikan nominal-nominal yang kini aku genggam erat, hingga untuk memberi pun aku masih menggunakan kalkulator cipataan manusia yang jika dikurangi hasilnya akan semakin sedikit.

Aku termenung melihat kejadian di depan mataku. Seorang teman yang sangat tangguh karena telah berhasil melewati berbagai cobaan besar yang dilaluinya memberi kepada seorang yang tak dikenalnya. Memberi dengan ikhlas dan dengan senyum tulus. Padahal aku sangat tahu bagaimana kondisi ekonominya saat ini.

Oh Allah. Bagaimana denganku? Sudahkah aku memberi setulus itu?? Bahkan untuk melemparkan senyuman kepada para pemulung atau pengemis pun aku tak pernah.

Aku malu. Aku malu kepada diriku sendiri. Malu kepada temanku. Bahkan aku sangat malu kepadaMu. Engkau telah memberiku cukup, tetapi aku selalu merasa kurang dan semakin menggenggam lagi dan lagi.


Kini, Engkau memperlihatkan kepadaku betapa tulusnya seorang yang hampir tak punya berbagi dengan tulus dan ikhlas kepada orang lain. Engkau memparku dengan kejadian ini. Menamparku dengan RahmanMu. Sangat lembut, hingga bukan sakit yang kurasa. Tetapi aku merasa malu dengan semua yang Kau beri.