Sabtu, 26 November 2016

A man. Dia yang tersimpan



Aku kembali pada kebiasaan lama. Menaruh sebuah nama di dalam hati ini. Seseorang yang cerdas dan tampan menurutku. Mungkin ini bukan rasa suka, tetapi hanya ku kagumi. Apa pun itu, nama itu telah berhasil menempati salah satu ruang di hati ini.

Ini bukan kali pertama aku menyukai seseorang. Eh, bukan suka yang sebenarnya. Mungkin kagum lebih tepatnya. Seseorang itu akan aku simpan dengan rapi dalam hati ini. Biasanya, seseorang yang aku simpan itu adalah seseorang yang cerdas.

Aku seorang yang introvert. Apa yang aku rasakan tidak harus kuceritakan kepada teman atau sahabat. Keluarga apalagi. aku lebih suka menjadi pendengar. “Kamu bak sampah yang baik.” Kata seorang teman kepadaku. Karena tak pernah kubocorkan cerita teman-teman yang pernah curhat kepadaku.

A man. Dia adalah salah satu rekan kerjaku. Kami bekerja di bidang yang sama. Hanya berbeda kantor. Sesekali, kami akan bertemu. Dari pertemuan berulang kali inilah aku mulai mengagumi sosok a man itu.

A man. Sengaja ku simpan tanpa seorang pun yang mengetahuinya karena aku cukup mengenal diriku sendiri. Aku seorang yang mudah menyukai seseorang, jika  a man itu tahu bahwa aku menyukainya, maka aka nada 2 kemungkinan. Dia akan membalas rasaku atau dia akan menolaknya. Kedua kemungkinan itu tidak sanggup ku terima. Jika dia membalas rasaku, maka aku akan bergantung kepadanya. Aku tidak menyukai diriku bergantung kepada orang lain yang belum tentu akan menjadi milikku seutuhnya. Jika dia menolakku, tentu aku akan sangat malu.

Ah.. dilema tingkat tinggi.

Setiap hari bayangan a man itu hadir. Ia bagai hantu yang terus hadir menghiasi pikiranku. Hari berganti hari. Bayangan itu tak kunjung pergi. “Tak apa. Saat aku mulai bosan, bayangan itu pasti akan pergi juga.” Pikirku. Dan kenyataannya tidak seperti itu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan terus berganti, tetapi banyangan itu terus saja hadir.

***

Karena aku lebih memilih untuk menyukaimu dalam diamku

Aku telah memutuskan untuk menyukaimu dalam diamku. Karena rasa ini tak kunjung pergi, maka aku akan menikmatinya dalam diam.

Aku mulai menikmati rasa ini. Ketika bertemu dengannya dan ia menegurku dengan sangat baik akan menjadi nilai plus bagiku. Perasaanku sangat senang tentunya.

Tetapi caranya sering berubah. Terkadang ia sangat baik kepadaku. terkadang ia mengabaikanku. Tak mau menegurku sama sekali. Walau pun aku menyapanya berulang kali, tetapi aku akan diabaikannya.



(HANYA KERANGKA CERITA)

Kamis, 24 November 2016

KARENA YANG MAHAL ITU ADALAH KEPERCAYAAN


Alasan. Hanya sebuah kalimat pembelaan untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Alasan menjadi sebuah kalimat penolong untuk menghindar dari kelemahan, ketidakbisaan, atau mungkin kesalahan. Alasan, hanya sesendok kebenaran dengan secangkir kebohongan.

Foya-foya dan menghabiskan uang adalah menjadi kebiasaanmu kala itu. Biaya SPP, uang saku, beli baju sepak bola, baju basket, bola, raket, sepatu, baju renang dan segala tetek bengek peralatan olah raga lainnya adalah sedikit alasan yang pernah kau lontarkan untuk meminta uang saat itu. Tentu saja orangtuamu percaya dengan semua yang kau sebutkan itu. Mereka berusaha, bekerja keras bahkan meminta pinjaman untuk memenuhi segala kebutuhanmu.  Karena yang mereka tahu, bahwa kau keluar rumah dan menjadi anak kos dengan maksud untuk mencari ilmu. Menjadi mahasiswa fakultas olah raga.

Tapi kenyataannya? Kurang dari setengah perjalanan, kau berhenti kuliah. Dan akhirnya kami tahu, bahwa kau juga sangat malas untuk ke kampus. Semua peralatan yang kau sebutkan untuk dibeli, tak pernah ada. Tak ada sehelai baju olah raga atau sepasang sepatu olah raga kau miliki. Apa mau dikata? Segala cara telah ditempuh. Tetapi kau tak juga mau berubah. Tak mau kuliah lagi.

Pernah juga waktu itu, kau pergi membawa laptop adikmu. Lama, laptop itu tak pernah kau bawa pulang. Padahal kau tahu, adikmu juga membutuhkan laptop itu untuk tugas-tugas di sekolahnya. Ternyata, laptop itu kau gadaikan. Untuk apa kau melakukannya? Lantas, kemana uang hasil gadainya? Entahlah. Mungkin uang itu kau gunakan untuk foya-foya dan mabuk-mabukan dengan teman-temanmu. Ah.. remaja dengan pergaulan bebas. Tak punya masa depan. Tak punya mimpi. Tak punya tujuan. Tak punya pengangan.

Kau remaja tak punya akal. Tidak berhenti sampai disitu saja kelakuan burukmu. Diam-diam, ATM adikmu pun kau embat. Semua tabungan habis. Untuk apa?? Judi online? Mungkin itu yang kau sedang geluti. Karena kau remaja gila. Tak punya akal sehat. Padahal kau tahu, tabungan itu sengaja disiapkan oleh adikmu untuk biaya kuliah. Tabungan itu dibuatnya saat masih kelas 11. Dan sekarang, hanya tinggal hitungan hari, ia akan mulai memasuki jenjang universitas.

Pura-pura tobat. Kau bekerja menjadi karyawan sebuah toko baju. Kemana gajimu? Kau gunakan untuk apa? Yang ada, setiap minggu kau meminta uang untuk segera di transfer. iya, segera. Dengan berbagai alasan tentunya. Aku percaya, karena aku berfikir positif. Aku mempercayai bahwa pada akhirnya kau akan berubah. Menjadi sosok remaja yang baik dan meninggalkan kebiasaan burukmu.

Kau meminta uang. Tanpa menunggu lama aku akan mentransfernya. Itu semua karena aku percaya. Nasihat demi nasihat tak lupa pula kuberikan. Tak pernah kau berkata tidak atau pun menolaknya. Bahkan, kau juga yang berkata lebih baik dari nasihat itu. Tapi kenyataannya? Kau masih sama. Tak berubah sedikit pun. Munafik. Apa yang kau katakan tak sesuai dengan kelakuanmu.

Remaja tak punya otak.

Dan kini, kau pergi membawa motor. Pergi seminggu tanpa kabar. Dan kau pulang tanpa motor itu. Digadai. Dengan alasan ingin untuk biaya kos dan akan mulai bekerja bulan depan. Apa aku akan percaya?? Rasanya sangat sulit. Setelah sekian banyak kebohongan yang kau ciptakan dengan mulutmu.


Sekarang, silahkan pikirkan sendiri masalahmu. Aku tak mau lagi ikut campur. Karena akan membuat dada ini sesak memikirkannya. Bukan karena tak peduli. Hanya saja untuk menjaga hati. 

Jumat, 18 November 2016

MERANGKAI KEBERSAMAAN (Part 2)



Hari yang cerah dan berawan. Selong Belanaaaakkkk…….!!!  We are coming!

Pantai Selong Belanak, kabupaten Lombok Tengah akan menjadi tujuan wisata kami kali ini. Pantai yang terletak di sebelah barat pantai Kuta ini memiliki pasir yang berwarna putih. Air laut berwarna hijau dan biru dengan deburan ombak yang tidak terlalu keras bisa menjadi tujuan wisata pantai bagi yang ingin membawa anak kecil. Karena ombak yang tidak besar, Pantai ini juga dijadikan tempat untuk belajar bermain surfing bagi para bule yang berwisata ke Lombok.

Selalu telat. Hahay…. Kebiasaan yang sering dibiasakan. Jadwal pemberangkatan yang disepakati paling telat jam 9 ternyata molor juga. Tapi tak mengapa. Yang penting berangkat dan sampai tujuan dengan selamat.

Perjalanan yang panjang dan jauh. Karena ini pertama kalinya kami satu tim berlibur ke pantai tengah (biasanya kami memilih lokasi di Kabupaten sendiri. Bahkan sebelumnya, liburan terakhir kami bersama, di pilih lokasi di Kecamatan Sendiri. Wisata air Pancor Kopong).

Karena panjangnya jarak yang akan di tempuh, maka kami 16 orang (satu orang tidak bisa ikut) memilih menggunakan mobil. Berangkat dengan 2 mobil. 1 mobil untuk mas ikhwan dan 1 mobil untuk mbak akhwat. Mobil mbak akhwat berisi 6 penumpang akhwat dewasa, 2 orang apras dan satu orang calon bayi.  Sisanya berada di mobil mas ikhwan. Keseruan di mobil mbak akhwat tidak kalah disbanding keseruan di mobil mas ikhwan (kemungkinan sih..hehe)

“Pergi sama ibu2 itu ribet. Banyak berhentinya.” Kata sopir di mobil mbak akhwat (FYI, sopir di mobil mbak akhwat adalah koorcam tim kami). Perkataan yang memiliki sedikit alasan. Iya, hanya sedikit saja. Karena kami meminta berhenti hanya 2 kali. Satu kali berhenti untuk membeli makanan titipan salah seorang mas ikhwan dan sekali lagi meminta berhenti karena mbak akhwat kebelet pipis. Oiya, sampai setengah perjalanan, salah satu mbak akhwat juga mengalami mbok darat. Beruntung tidak sampai muntah di dalam mobil. Minyak Malaleuca Leucadendron menjadi minyak penolong baginya.

Tidak menemukan masjid terdekat untuk membuang cairan sisa dari dalam tubuh, maka kami berhenti di salah satu mart untuk menumpang toilet. Sekalian membeli air mineral gelas. Berhenti di mini market dan membeli beberapa minuman dingin untuk membasahi kerongkongan yang sudah mulai dahaga. Plus, beberapa orang lainnya juga membeli makanan ringan. Termasuk mbak akhwat yang mabok darat.

Setelah berhenti sebentar di mini market, kami pun melanjutkan perjalanan. And do you know what happened? Mbak akhwat yang tadinya mabok perjalanan pulih kembali setelah makan snack yang tadi dibelinya. Ternyata dia pusing dan mual karena lapar. Bukan mabok darat. Huaaa…. Jadi maksud loe apa???

Akhirnya, kami pun sampai tujuan setelah mendaki gunung lewati lembah (eh salah). Kemudian Mencari posisi yang nyaman dan mulai membuka perbekalan. Karena Jalan yang panjang dan berliku (lebay) membuat  cacing2 di perut membuat mini konser music keroncong .  Selesai makan dan solat zuhur, game pun akan segera dimainkan.

Game pertama, tikus dan kucing. Game yang mengasah konsentrasi pemain. Masing-masing pemain membawa satu sandal yang akan digunakan untuk bermain. Pemain membuat lingkaran besar dan instructor berada di tengah para pemain. Instructor akan membacakan narasi dan ketika ada kata “tikus” maka sandal yang dipegang oleh para pemain akan di over ke kanan dan jika ada  kata “kucing” maka sandal akan di over ke sebelah kiri. Pemain yang salah akan diceburkan ke pantai.

Pada game kedua, para pemain tidak menggunakan sandal lagi. ketika instructor membacakan narasi dan terdapat kata “Tono” maka pemain akan maju selangkah dan ketika ada kata “Tini” maka pemain akan mundur selangkah. Dan hukuman bagi para pemain yang salah pun adalah menceburkan diri ke laut.  Game pertama dan kedua mengasah konsentrasi para pemain.

Terik panas matahari tak menghalangi keseruan kami bermain. Gelak tawa kami menarik perhatian 2 orang bule yang lewat di depan kami saat itu. Mereka sempat berhenti tak jauh dari kami dan ikut tertawa. Mungkin mereka ingin untuk ikut bergabung dalam permainan kami, tapi maaf. Ini adalah liburan untuk merangkai kebersaam kami.

Game yang ketiga, sudah tidak mengasah konsentrasi lagi. ini adalah permainan kerja tim. 6 orang dalam satu tim akan memindahkan air mineral gelas yang terletak di tengah-tengah tali. Tali akan ditarik oleh para pemain untuk mengangkat dan memindahkan air mineral ke dalam kotak lain yang disediakan.
Tiga jenis permainan. Tinggal satu permainan lagi yang dicetuskan oleh sang korcam. Kemungkinan permainan ini adalah permainan syar’I (hehe…). Tetapi permainan ini tidak jadi dilakukan karena beberapa pemain sudah asyik berenang.

Sisanya, Mari segera menceburkan diri ke laut. Menikmati segarnya air laut. Tak lupa berfoto untuk mengabadikan moment hari ini.

Thanks Allah untuk semua nikmat_Mu. Indahnya tempat ini merupakan salah satu Maha karya ciptaan_Mu.  Terima kasih untuk teman-teman baik yang telah Engkau kirimkan. Semoga kami akan selalu kompak dan semoga kebersaan kami tidak sampai disini.

Alhamdulillah….

Terimas kasih temans..


Thanks for this day at Selong Belanak J

Minggu, 13 November 2016

Tentang Seorang Kawan


Pertama kali bertemu dengannya, pikiran negative mulai menghinggapi otakku. Bagaimana tidak, ia terlihat kemayu dan lembut, tetapi selalu menyangkal pendapat orang lain. Dan pastinya, sangkalan itu dikatakannya dengan suara yang sangat kecil. Mungkin hanya bisa terdengar oleh orang yang duduk disampingnya saja. Dan aku adalah orang yang duduk disampingnya saat itu.

Di terlihat seperti orang yang malas bekerja dan selalu ingin cepat pulang. “Ah…perempuan satu ini terlihat kemayu tetapi sangat menjengkelkan. Semoga aku tidak akan satu tim dengannya ketika bekerja nanti.” Ungkapku dalam hati. Sempat juga kata-kata ini kubisikkan pada teman lamaku, karena bosan mendengar semua sangkalan perempuan disampingku itu. Temanku hanya mengiyakan dan tertawa. Karena ia juga mendengar beberapa kalimat perempuan itu.

Waktu zuhur pun telah masuk. Kami break sebentar untuk melaksanakan solat. Rapat perkenalan pegawai lama dan baru akan dilanjutkan setelah solat. Karena masih ada yang belum selesai dibahas terkait dengan pembagian wilayah kerja.

Saat waktu solat, ia mulai menegurku. “Mbak, tinggal dimana?” tanyanya padaku. Aku memberi tahukan alamatku kepadanya. “ disekitarannya ada rumah kosong tak?” tanyanya lagi. “Kurang tahu, mungkin nggak ada. Emangnya kenapa?” aku balik bertanya. “Kalau ada, tolong kasi tahu ya. Saya ingin mengontrak rumah. Sekarang masih tinggal dengan mertua.” Jawabnya polos

Ahh… aku mulai tersentuh. Dia yang tadinya sudah kupanggil dengan perempuan kemayu yang menjengkelkan kini membuatku merasa iba. Ia yang sudah memiliki anak ternyata masih tinggal bersama mertua.

Hari-hari berlalu, aku semakin merasa iba kepadanya. Tidak hanya rumah yang tidak ia miliki. Ia juga tidak memiliki handphone dan motor. Dua hal yang menurutku paling penting untuk seorang pekerja lapangan seperti kami adalah alat komunikasi dan alat transportasi.
Menghubunginya sangat susah. Harus melalui handphone suaminya dulu. Itu pun kalau suaminya sedang di rumah. Tidak jarang nomer suaminya itu juga tidak aktif, mungkin handphonenya juga rusak.

Mertuanya adalah salah satu dari masyarakat penerima bantuan pemerintah. Rumahnya pun adalah hasil dari program bedah rumah. Jika keadaannya seperti itu, aku bisa membayangkan, wajar saja jika ia belum memiliki hp (walau pun alasannya saat ini  adalah handphonenya masih diperbaiki).

Semakin hari, aku semakin mengenalnya. Ia masih kemayu seperti saat pertama kali bertemu. Tetapi sudah tidak menjengkelkan lagi. Karena ia sudah tidak pernah terdengar ngomong sendiri. Ia juga terlihat giat bekerja. Ia sosok yang mudah bergaul, polos, lucu dan narsis di depan kamera (saat melihat kamera, ia selalu memasang gaya).

Dan akhirnya, aku telah salah menilai orang yang baru kukenal. 

Peace mbak…

Intinya adalah, aku harus belajar lagi untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan tentang orang lain hanya dengan sekali tatap.

“Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan melihat Sampulnya”




DESEMBER, BUKAN BULAN YANG TERTULIS DI LAUH MAHFUZ UNTUKKU


Sore Ahad waktu itu, tepatnya tanggal berapa aku lupa. Waktu itu aku menyaksikan acara Damai Indonesiaku dengan penceramah Ust Yusuf Mansur. Dalam doanya, beliau memanjatkan semoga para pemirsa bisa melaksanakan umroh pada bulan Desember tahun 2016. Aku termasuk pemirsa yang mengaminkan doa tersebut dengan setulus hati. Dari hati yang terdalam.

Desember menjadi bulan yang aku nanti-nantikan. Dalam doa aku selalu menyelipkan ingin untuk bisa menjadi tamu Allah pada bulan Desember tahun ini. Berdoa kepada yang Maha dan diskusi dengan ibu adalah bentuk usaha untuk bisa mencapai ingin itu.

KBIH Azzahro’ akan menjadi pilihan kami. Karena perjalanan ini bukan tentang traveling atau holiday, maka ilmunya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Dan KBIH Azzahro merupakan KBIH yang melakukan manasik lebih dari 5 kali untuk jemaah yang akan berangkat bersamanya dan KBIH ini juga akan berangkat pada bulan Desember, sesuai dengan apa yang telah ku harapkan.

Yupz, disaat hati sudah semakin mantap dan biaya insyaAllah telah terkumpul, ibu memutuskan akan berkonsultasi dengan pembimbing KBIH pada hari sabtu sore setelah acara pengajian mereka bubar. Ternyata pada hari sabtu, hujan tak kunjung reda. Sehingga apa yang telah direncanakan ditunda.

Ahad, 13 November 2016 ibu menelpon salah satu staf KBIH untuk menanyakan tentang keberangkatan bulan Desember. Dan ternyataaaa…….. pendaftaran untuk bulan Desember telah ditutup. Para jemaah sudah mulai melakukan manasik dan insyaAllah siap untuk berangkat.  Untuk bisa ikut di KBIH ini harus menunggu sekitar 5 bulan lagi yaitu pada bulan Rajab. Dan sekarang masih pertengahan bulan Safar.

 Semua yang aku rangkai dalam angan tak bisa menjadi nyata pada bulan Desember. Doaku untuk bisa berumroh InsyaAllah akan dikabulkanNya, tetapi bukan di bulan Desember ini.  Aku harus menunggu 5 bulan lagi.

5 bulan kedepan, apakah nyawaku masih di dalam raga? Entah lah. Karena hanya Dia yang Maha menggenggam nyawa semua hambaNya.

 5 bulan ke depan, apakah aku masih sehat? Entahlah, karena hanya Dia yang memberi kesehatan.  

5 bulan ke depan, apakah aku masih diberiNya waktu dan kesempatan untuk menjadi tamu di BaitNya? Entah lah. Semoga aku bisa menjadi salah satu dari manusia pilihan yang akan memenuhi undangan ke BaitNya.

Lantas, bagaimana dengan statusku? Apakah 5 bulan ke depan statusku telah berubah?? Entahlah. Karena hanya Dia  yang Maha Tahu. Dia yang Maha mengatur semua urusan mahlukNya.

Dalam masa penantianku yang 5 bulan ini, semua bisa saja terjadi dengan ke Maha Kuasaan Allah. Jika Dia berkata “Kun” maka semua akan terjadi. Yang perlu untuk aku lakukan adalah belajar dan terus berusaha memperbaiki diri. Mungkin saat ini aku masih terlalu kotor untuk bisa menjadi tamu istimewa itu. Ini adalah waktuku untuk membersihkan diri, membersihkan hati dan pikiran agar aku semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Be positif thingking, mungkin masa 5 bulan ini adalah waktu untuk bermuhasabah diri agar aku bisa menjadi wanita suci. Mungkin dalam masa penantian ini, statusku pun akan diubah oleh Allah dengan mendatangkan lelaki yang telah dipilihNya untukku. Semoga…

Mungkin dalam catatan kehidupanku di Lauhul Mahfuz, umroh pada bulan Desember tahun 2016 tidak tercetak.

Bersabar dan bersyukur. Karena Dia adalah yang Maha Mengatur.


Scenario yang dibuat olehNya pasti indah….

Rabu, 09 November 2016

Merangkai Kebersamaan, 8 Menjadi 17


“Tak perlu jauh. Yang penting kebersamaan.” Kata seorang teman

Iya, perjalanan kali ini adalah perjalanan pertama kami ber 17 orang. Yang awalnya kami hanya berjumlah 8 orang. Setelah ditimbang2 (mengingat bahwa kami memiliki seorang teman dengan kategori angka 1), maka diputuskanlah bahwa kami akan melakukan holiday pertama ber 17 orang ke tempat yang paling dekat. Tak perlu mengeluarkan energy lebih untuk menjangkaunya karena masih dalam kecamatan.

Menunggu,

Perjalanan yang awalnya dijadwalkan pada jam 8 pagi tak sesuai dengan rencana, Karena adanya beberapa kawan yang masih memvalidkan pekerjaan yang masih error. Factor lokasi yang tidak jauh membuat waktu menunggu yang lebih dari 2 jam tak menjadi masalah. Menunggu, diisi dengan tertawa dan bercanda bersama.

Sekitar 10 menit berkendara dengan kecepatan rendah, kami pun sampai ke lokasi. Yup… wisata air pancor kopong (haha… dekat dan tumben)

“Bruuugh!!!” Ah…. Ternyata kaki saya salah pijakan. Jalan setapak, tanah dan ditumbuhi rumput membuat mata saya tidak jeli melihat parit. Parit dengan lebar kira2 hanya sesiku dan saya pun terjerembab ke dalamnya. Beruntungnya lebar parit hanya sesiku, hanya badan saya yang masuk kesana sehingga badan saya tidak tertindih motor (selalu berusaha mencari keuntungan dibalik setiap peristiwa. Cieeeh.. Ceritanya anak sholeh…hahaha). Merasa lucu, karena saya melihat 3 orang didepan saya kaget. Hihihi

Finaly, setelah berjalan turun tangga dan melewati sawah2, kami pun sampai di lokasi yang agak sepi. 

Eit… bukan untuk apa2 ya. Hanya untuk bakar2 ayam saja.

Bercanda. Tertawa.  Bakar2 ayam. Makan. Menikmati segarnya air terjun. Dan tentunya Bersama teman2 lama dan teman2 baru.

Thanks for this day. Semoga kebersamaan kita tidak sampai disini kawan.