Pertama kali bertemu
dengannya, pikiran negative mulai menghinggapi otakku. Bagaimana tidak, ia
terlihat kemayu dan lembut, tetapi selalu menyangkal pendapat orang lain. Dan
pastinya, sangkalan itu dikatakannya dengan suara yang sangat kecil. Mungkin
hanya bisa terdengar oleh orang yang duduk disampingnya saja. Dan aku adalah
orang yang duduk disampingnya saat itu.
Di terlihat seperti orang
yang malas bekerja dan selalu ingin cepat pulang. “Ah…perempuan satu ini terlihat
kemayu tetapi sangat menjengkelkan. Semoga aku tidak akan satu tim dengannya
ketika bekerja nanti.” Ungkapku dalam hati. Sempat juga kata-kata ini
kubisikkan pada teman lamaku, karena bosan mendengar semua sangkalan perempuan
disampingku itu. Temanku hanya mengiyakan dan tertawa. Karena ia juga mendengar
beberapa kalimat perempuan itu.
Waktu zuhur pun telah masuk.
Kami break sebentar untuk melaksanakan solat. Rapat perkenalan pegawai lama dan
baru akan dilanjutkan setelah solat. Karena masih ada yang belum selesai
dibahas terkait dengan pembagian wilayah kerja.
Saat waktu solat, ia mulai
menegurku. “Mbak, tinggal dimana?” tanyanya padaku. Aku memberi tahukan
alamatku kepadanya. “ disekitarannya ada rumah kosong tak?” tanyanya lagi.
“Kurang tahu, mungkin nggak ada. Emangnya kenapa?” aku balik bertanya. “Kalau
ada, tolong kasi tahu ya. Saya ingin mengontrak rumah. Sekarang masih tinggal
dengan mertua.” Jawabnya polos
Ahh… aku mulai tersentuh.
Dia yang tadinya sudah kupanggil dengan perempuan kemayu yang menjengkelkan
kini membuatku merasa iba. Ia yang sudah memiliki anak ternyata masih tinggal
bersama mertua.
Hari-hari berlalu, aku
semakin merasa iba kepadanya. Tidak hanya rumah yang tidak ia miliki. Ia juga
tidak memiliki handphone dan motor. Dua hal yang menurutku paling penting untuk
seorang pekerja lapangan seperti kami adalah alat komunikasi dan alat
transportasi.
Menghubunginya sangat susah.
Harus melalui handphone suaminya dulu. Itu pun kalau suaminya sedang di rumah.
Tidak jarang nomer suaminya itu juga tidak aktif, mungkin handphonenya juga
rusak.
Mertuanya adalah salah satu
dari masyarakat penerima bantuan pemerintah. Rumahnya pun adalah hasil dari
program bedah rumah. Jika keadaannya seperti itu, aku bisa membayangkan, wajar
saja jika ia belum memiliki hp (walau pun alasannya saat ini adalah handphonenya masih diperbaiki).
Semakin hari, aku semakin
mengenalnya. Ia masih kemayu seperti saat pertama kali bertemu. Tetapi sudah
tidak menjengkelkan lagi. Karena ia sudah tidak pernah terdengar ngomong
sendiri. Ia juga terlihat giat bekerja. Ia sosok yang mudah bergaul, polos,
lucu dan narsis di depan kamera (saat melihat kamera, ia selalu memasang gaya).
Dan akhirnya, aku telah
salah menilai orang yang baru kukenal.
Peace mbak…
Intinya adalah, aku harus
belajar lagi untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan tentang orang lain hanya
dengan sekali tatap.
“Jangan
Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan melihat Sampulnya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar