Minggu, 13 November 2016

Tentang Seorang Kawan


Pertama kali bertemu dengannya, pikiran negative mulai menghinggapi otakku. Bagaimana tidak, ia terlihat kemayu dan lembut, tetapi selalu menyangkal pendapat orang lain. Dan pastinya, sangkalan itu dikatakannya dengan suara yang sangat kecil. Mungkin hanya bisa terdengar oleh orang yang duduk disampingnya saja. Dan aku adalah orang yang duduk disampingnya saat itu.

Di terlihat seperti orang yang malas bekerja dan selalu ingin cepat pulang. “Ah…perempuan satu ini terlihat kemayu tetapi sangat menjengkelkan. Semoga aku tidak akan satu tim dengannya ketika bekerja nanti.” Ungkapku dalam hati. Sempat juga kata-kata ini kubisikkan pada teman lamaku, karena bosan mendengar semua sangkalan perempuan disampingku itu. Temanku hanya mengiyakan dan tertawa. Karena ia juga mendengar beberapa kalimat perempuan itu.

Waktu zuhur pun telah masuk. Kami break sebentar untuk melaksanakan solat. Rapat perkenalan pegawai lama dan baru akan dilanjutkan setelah solat. Karena masih ada yang belum selesai dibahas terkait dengan pembagian wilayah kerja.

Saat waktu solat, ia mulai menegurku. “Mbak, tinggal dimana?” tanyanya padaku. Aku memberi tahukan alamatku kepadanya. “ disekitarannya ada rumah kosong tak?” tanyanya lagi. “Kurang tahu, mungkin nggak ada. Emangnya kenapa?” aku balik bertanya. “Kalau ada, tolong kasi tahu ya. Saya ingin mengontrak rumah. Sekarang masih tinggal dengan mertua.” Jawabnya polos

Ahh… aku mulai tersentuh. Dia yang tadinya sudah kupanggil dengan perempuan kemayu yang menjengkelkan kini membuatku merasa iba. Ia yang sudah memiliki anak ternyata masih tinggal bersama mertua.

Hari-hari berlalu, aku semakin merasa iba kepadanya. Tidak hanya rumah yang tidak ia miliki. Ia juga tidak memiliki handphone dan motor. Dua hal yang menurutku paling penting untuk seorang pekerja lapangan seperti kami adalah alat komunikasi dan alat transportasi.
Menghubunginya sangat susah. Harus melalui handphone suaminya dulu. Itu pun kalau suaminya sedang di rumah. Tidak jarang nomer suaminya itu juga tidak aktif, mungkin handphonenya juga rusak.

Mertuanya adalah salah satu dari masyarakat penerima bantuan pemerintah. Rumahnya pun adalah hasil dari program bedah rumah. Jika keadaannya seperti itu, aku bisa membayangkan, wajar saja jika ia belum memiliki hp (walau pun alasannya saat ini  adalah handphonenya masih diperbaiki).

Semakin hari, aku semakin mengenalnya. Ia masih kemayu seperti saat pertama kali bertemu. Tetapi sudah tidak menjengkelkan lagi. Karena ia sudah tidak pernah terdengar ngomong sendiri. Ia juga terlihat giat bekerja. Ia sosok yang mudah bergaul, polos, lucu dan narsis di depan kamera (saat melihat kamera, ia selalu memasang gaya).

Dan akhirnya, aku telah salah menilai orang yang baru kukenal. 

Peace mbak…

Intinya adalah, aku harus belajar lagi untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan tentang orang lain hanya dengan sekali tatap.

“Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan melihat Sampulnya”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar