Kamis, 24 November 2016

KARENA YANG MAHAL ITU ADALAH KEPERCAYAAN


Alasan. Hanya sebuah kalimat pembelaan untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Alasan menjadi sebuah kalimat penolong untuk menghindar dari kelemahan, ketidakbisaan, atau mungkin kesalahan. Alasan, hanya sesendok kebenaran dengan secangkir kebohongan.

Foya-foya dan menghabiskan uang adalah menjadi kebiasaanmu kala itu. Biaya SPP, uang saku, beli baju sepak bola, baju basket, bola, raket, sepatu, baju renang dan segala tetek bengek peralatan olah raga lainnya adalah sedikit alasan yang pernah kau lontarkan untuk meminta uang saat itu. Tentu saja orangtuamu percaya dengan semua yang kau sebutkan itu. Mereka berusaha, bekerja keras bahkan meminta pinjaman untuk memenuhi segala kebutuhanmu.  Karena yang mereka tahu, bahwa kau keluar rumah dan menjadi anak kos dengan maksud untuk mencari ilmu. Menjadi mahasiswa fakultas olah raga.

Tapi kenyataannya? Kurang dari setengah perjalanan, kau berhenti kuliah. Dan akhirnya kami tahu, bahwa kau juga sangat malas untuk ke kampus. Semua peralatan yang kau sebutkan untuk dibeli, tak pernah ada. Tak ada sehelai baju olah raga atau sepasang sepatu olah raga kau miliki. Apa mau dikata? Segala cara telah ditempuh. Tetapi kau tak juga mau berubah. Tak mau kuliah lagi.

Pernah juga waktu itu, kau pergi membawa laptop adikmu. Lama, laptop itu tak pernah kau bawa pulang. Padahal kau tahu, adikmu juga membutuhkan laptop itu untuk tugas-tugas di sekolahnya. Ternyata, laptop itu kau gadaikan. Untuk apa kau melakukannya? Lantas, kemana uang hasil gadainya? Entahlah. Mungkin uang itu kau gunakan untuk foya-foya dan mabuk-mabukan dengan teman-temanmu. Ah.. remaja dengan pergaulan bebas. Tak punya masa depan. Tak punya mimpi. Tak punya tujuan. Tak punya pengangan.

Kau remaja tak punya akal. Tidak berhenti sampai disitu saja kelakuan burukmu. Diam-diam, ATM adikmu pun kau embat. Semua tabungan habis. Untuk apa?? Judi online? Mungkin itu yang kau sedang geluti. Karena kau remaja gila. Tak punya akal sehat. Padahal kau tahu, tabungan itu sengaja disiapkan oleh adikmu untuk biaya kuliah. Tabungan itu dibuatnya saat masih kelas 11. Dan sekarang, hanya tinggal hitungan hari, ia akan mulai memasuki jenjang universitas.

Pura-pura tobat. Kau bekerja menjadi karyawan sebuah toko baju. Kemana gajimu? Kau gunakan untuk apa? Yang ada, setiap minggu kau meminta uang untuk segera di transfer. iya, segera. Dengan berbagai alasan tentunya. Aku percaya, karena aku berfikir positif. Aku mempercayai bahwa pada akhirnya kau akan berubah. Menjadi sosok remaja yang baik dan meninggalkan kebiasaan burukmu.

Kau meminta uang. Tanpa menunggu lama aku akan mentransfernya. Itu semua karena aku percaya. Nasihat demi nasihat tak lupa pula kuberikan. Tak pernah kau berkata tidak atau pun menolaknya. Bahkan, kau juga yang berkata lebih baik dari nasihat itu. Tapi kenyataannya? Kau masih sama. Tak berubah sedikit pun. Munafik. Apa yang kau katakan tak sesuai dengan kelakuanmu.

Remaja tak punya otak.

Dan kini, kau pergi membawa motor. Pergi seminggu tanpa kabar. Dan kau pulang tanpa motor itu. Digadai. Dengan alasan ingin untuk biaya kos dan akan mulai bekerja bulan depan. Apa aku akan percaya?? Rasanya sangat sulit. Setelah sekian banyak kebohongan yang kau ciptakan dengan mulutmu.


Sekarang, silahkan pikirkan sendiri masalahmu. Aku tak mau lagi ikut campur. Karena akan membuat dada ini sesak memikirkannya. Bukan karena tak peduli. Hanya saja untuk menjaga hati. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar