Jumat, 23 Desember 2016

PROPHET MUHAMMAD SAW


Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Madrakah bin Ilyas bin Mudhir bin Nazzar bin Ma’ad Adnan dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul awwal pada tahun Gajah. Pada tanggal yang sama beliau di-Mi’rajkan ke langit, berhijrah dan wafat. Dan di hari senin juga beliau diangkat menjadi nabi, beliau wafat, berhijrah dari Mekah ke Madinah, tiba di Madinah, dan mengangkat hajar aswad untuk diletakkan pada tempatnya. Semua itu terjadi pada hari Senin.

Muhammad lahir dari seorang ibu bernama Aminah binti Wahab. Aminah mengandung Muhammad dengan kandungan yang sangat ringan. Dan saat beliau kluar dari perut ibunya dalam keadaan bersandar dengan kedua tangannya di atas bumisambil mengangkatkan kepala ke langit. Saat lahir beliau sudah menjadi yatim (Abdullah wafat di Madinah ketika beliau pergi berdagang ke negeri Syam dan disaat itu Aminah sedang hamil). Dan ketika beliau berumur enam tahun wafat lah sang bunda di Abwa saat perjalan pulang dari berziarah kepada paman-paman ayahnya suku ‘Adiy bin an-Najjar.

Prosesi kelahiran beliau terjadi di rumah Abu Thalib di tempat Syi’ib Bani Hasyim. Orang yang membantu proses kelahiran beliau yaitu Ummu Aiman Barakah Al Habasyiyyah, seorang budak perempuan milik ayahnya. Dan orang yang pertama kali menyusui beliau adalah Tsuwaibah, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Pada awal  pengasuhannya, Muhammad disusukan oleh Halimah binti Al Harits dari suku Sa’ad bin Bakar. Keluarga Halimah menjadi sejahtera setelah ia mengambil Muhammad untuk disusukan. Payudara Halimah penuh berisi susu sehingga ia dapat mengenyangkan Muhammad dan putranya. Begitu juga dengan unta miliknya. Unta tersebut menjadi kuat dan memiliki banyak susu. Dan pada saat paceklik, kambing-kambing milik Halimah pun selalu dalam keadaan kenyang dan memiliki banyak susu untuk diminum oleh keluarga Halimah. Muhammad pun tumbuh dewasa dalam asuhan Halimah. Beliau tumbuh sehari seperti tumbuh sebulan (pada anak biasanya).

 Pada saat dalam asuhan Halimah lah, terjadi proses pembelahan dada yang dilakukan oleh Malaikat Jibril. “Sesungguhnya Rosululloh didatangi oleh Malaikat Jibril ketika sedang bermain bersama anak-anak kecil. Dia pun mengambilnya dan membaringkannya, kemudian membelah dadanya dan mengeluarkan hatinya serta mengeluarkan segumpal darah. Jibril berkata, ‘ini adalah bagian setan dalam dirimu.’ Kemudin ia mencucinya dalam sebuah bejana yang terbuat dari emas dengan air zamzam. Kemudian dia mengumpulkannya dan mengembalikannya pada tempatnya”

Kemudian Muhammad di asuh oleh Ummu Aiman dan ditanggung oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Saat Muhammad berumur 8 tahun, wafat lah sang kakek. Kemudian Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Saat dalam pengasuhan Abu Thalib inilah, Muhammad bekerja sebagai pengembala kambing. Beliau bermaksud hendak membantu perekonomian keluarga karena pamannya memiliki banyak anak. Hikmah dibalik pengilhaman para nabi dengan pengembalaan kambing sebelum menjadi nabi adalah agar mereka terlatih dengan pengembalaan tersebut. Selanjutnya, mereka akan terbiasa atas apa yang akan dibebankan kepada mereka yaitu urusan umat.

Cirri kenabian pada diri Muhammad juga diketahui oleh seorang pendeta Bahira yaitu, saat berjalan Muhammad selalu dinaungi oleh awan, pohon dan batu menunduk untuk bersujud, beliau juga dinaungi oleh pohon ketika hendak duduk. Cirri kenabian ini juga diketahui oleh seorang rahib ketika Muhammad pergi ke negeri Syam sebagai utusan Khadijah untuk berdagang. ketika itu Rahib bertanya kepada Maisarah (pegawai Khadijah) tentang laki-laki yang duduk dibawah pohon, setelah itu rahib tersebut berkata “tidaklah berteduh dibawah pohon ini kecuali dia adalah seorang nabi.”

Maisarah melaporkan perkataan rahib tersebut kepada Khadijah dan ia juga melaporkan tentang kejadian-kejadian aneh (selalu dinaungi oleh awan dan pohon) saat melakukan perjalanan dagang bersama Muhammad. Dan setelah pulang dari perjalanan dagang tersebut, Khadijah pun melamar Rosullulah. Khadijah adalah saudagar perempuan terkaya di kota Mekah, ia bermartabat tinggi dan  memiliki nasab yang mulia. Khadijah adalah wanita termulia penduduk surga dan termulia sealam raya. Khadijah juga merupakan satu-satunya wanita yang mendapat salam dari Allah dan malaikat Jibril.

Khadijah merupakan istri pertama nabi dan merupakan istri satu-satunya. Pada saat beristrikan Khadijah, nabi tidak pernah menikahi perempuan lain. Dan hanya dari Khadijah lah nabi mendapat keturunan (dan Mariyah al Qitbiyah, tetapi hanya 1 putra yang bernama Ibrahim dan meninggal pada usia 17 atau 18 bulan).

Wahyu diturunkan kepada Muhammad pada saat beliau berumur 40 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Dan beliau wafat ketika berumur 63 tahun. Wahyu pertama turun di gua Hira. Datanglah malaikat kepadanya dan berkata “Bacalah!” beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca.” Nabi berkata, “Dia pun meraih dan mendekapku sampai aku sesak, kemudian melepaskanku.” Jibril berkata, “Bacalah!” aku menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Dia pun meraih dan mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku terasa sesak kemudian melepaskanku. Dia berkata “Bacalah!” aku menjawab, “Aku tidak dapat membaca” dia pun meraih dan mendekapku untuk ketiga kalinya kemudian melepaskanku. Dia berkata, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha mulia (QS Al Alaq : 1-3)

Akhirnya, pulanglah Rosululloh bersama ayat tersebut dengan hati berdebar. Beliau masuk ke kamar dan berkata kepada Khadijah “selimuti aku!” kemudian Khadijah pun menyelimutinya hingga rasa takut hilang dari beliau. Kemudian beliau pun menceritakan kejadian yang dialaminya kepada Khadijah.

Fase dakwah dalam kehidupan nabi dilakukan secara diam-diam (selama 3 tahun), kemudian terang-terangan dan hanya dengan lisan (berlangsung sampai hijrah), kemudian terang-terangan disertai dengan peperangan dengan orang yang memulai peperangan (berlangsung hingga perjanjian Hudaibiyah), kemudian terang-terangan disertai dengan peperangan melawan setiap orang yang menghalangi dakwah atau tidak mau masuk islam.

Abu Bakar adalah orang yang pertama kali masuk islam dari kalangan dewasa, Ali bin Abi Thalib dari kalangan anak-anak, Khadijah dari kalangan wanita dan Zaid bin Harisah dari kalangan budak.

Sabtu, 26 November 2016

A man. Dia yang tersimpan



Aku kembali pada kebiasaan lama. Menaruh sebuah nama di dalam hati ini. Seseorang yang cerdas dan tampan menurutku. Mungkin ini bukan rasa suka, tetapi hanya ku kagumi. Apa pun itu, nama itu telah berhasil menempati salah satu ruang di hati ini.

Ini bukan kali pertama aku menyukai seseorang. Eh, bukan suka yang sebenarnya. Mungkin kagum lebih tepatnya. Seseorang itu akan aku simpan dengan rapi dalam hati ini. Biasanya, seseorang yang aku simpan itu adalah seseorang yang cerdas.

Aku seorang yang introvert. Apa yang aku rasakan tidak harus kuceritakan kepada teman atau sahabat. Keluarga apalagi. aku lebih suka menjadi pendengar. “Kamu bak sampah yang baik.” Kata seorang teman kepadaku. Karena tak pernah kubocorkan cerita teman-teman yang pernah curhat kepadaku.

A man. Dia adalah salah satu rekan kerjaku. Kami bekerja di bidang yang sama. Hanya berbeda kantor. Sesekali, kami akan bertemu. Dari pertemuan berulang kali inilah aku mulai mengagumi sosok a man itu.

A man. Sengaja ku simpan tanpa seorang pun yang mengetahuinya karena aku cukup mengenal diriku sendiri. Aku seorang yang mudah menyukai seseorang, jika  a man itu tahu bahwa aku menyukainya, maka aka nada 2 kemungkinan. Dia akan membalas rasaku atau dia akan menolaknya. Kedua kemungkinan itu tidak sanggup ku terima. Jika dia membalas rasaku, maka aku akan bergantung kepadanya. Aku tidak menyukai diriku bergantung kepada orang lain yang belum tentu akan menjadi milikku seutuhnya. Jika dia menolakku, tentu aku akan sangat malu.

Ah.. dilema tingkat tinggi.

Setiap hari bayangan a man itu hadir. Ia bagai hantu yang terus hadir menghiasi pikiranku. Hari berganti hari. Bayangan itu tak kunjung pergi. “Tak apa. Saat aku mulai bosan, bayangan itu pasti akan pergi juga.” Pikirku. Dan kenyataannya tidak seperti itu. Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan terus berganti, tetapi banyangan itu terus saja hadir.

***

Karena aku lebih memilih untuk menyukaimu dalam diamku

Aku telah memutuskan untuk menyukaimu dalam diamku. Karena rasa ini tak kunjung pergi, maka aku akan menikmatinya dalam diam.

Aku mulai menikmati rasa ini. Ketika bertemu dengannya dan ia menegurku dengan sangat baik akan menjadi nilai plus bagiku. Perasaanku sangat senang tentunya.

Tetapi caranya sering berubah. Terkadang ia sangat baik kepadaku. terkadang ia mengabaikanku. Tak mau menegurku sama sekali. Walau pun aku menyapanya berulang kali, tetapi aku akan diabaikannya.



(HANYA KERANGKA CERITA)

Kamis, 24 November 2016

KARENA YANG MAHAL ITU ADALAH KEPERCAYAAN


Alasan. Hanya sebuah kalimat pembelaan untuk menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Alasan menjadi sebuah kalimat penolong untuk menghindar dari kelemahan, ketidakbisaan, atau mungkin kesalahan. Alasan, hanya sesendok kebenaran dengan secangkir kebohongan.

Foya-foya dan menghabiskan uang adalah menjadi kebiasaanmu kala itu. Biaya SPP, uang saku, beli baju sepak bola, baju basket, bola, raket, sepatu, baju renang dan segala tetek bengek peralatan olah raga lainnya adalah sedikit alasan yang pernah kau lontarkan untuk meminta uang saat itu. Tentu saja orangtuamu percaya dengan semua yang kau sebutkan itu. Mereka berusaha, bekerja keras bahkan meminta pinjaman untuk memenuhi segala kebutuhanmu.  Karena yang mereka tahu, bahwa kau keluar rumah dan menjadi anak kos dengan maksud untuk mencari ilmu. Menjadi mahasiswa fakultas olah raga.

Tapi kenyataannya? Kurang dari setengah perjalanan, kau berhenti kuliah. Dan akhirnya kami tahu, bahwa kau juga sangat malas untuk ke kampus. Semua peralatan yang kau sebutkan untuk dibeli, tak pernah ada. Tak ada sehelai baju olah raga atau sepasang sepatu olah raga kau miliki. Apa mau dikata? Segala cara telah ditempuh. Tetapi kau tak juga mau berubah. Tak mau kuliah lagi.

Pernah juga waktu itu, kau pergi membawa laptop adikmu. Lama, laptop itu tak pernah kau bawa pulang. Padahal kau tahu, adikmu juga membutuhkan laptop itu untuk tugas-tugas di sekolahnya. Ternyata, laptop itu kau gadaikan. Untuk apa kau melakukannya? Lantas, kemana uang hasil gadainya? Entahlah. Mungkin uang itu kau gunakan untuk foya-foya dan mabuk-mabukan dengan teman-temanmu. Ah.. remaja dengan pergaulan bebas. Tak punya masa depan. Tak punya mimpi. Tak punya tujuan. Tak punya pengangan.

Kau remaja tak punya akal. Tidak berhenti sampai disitu saja kelakuan burukmu. Diam-diam, ATM adikmu pun kau embat. Semua tabungan habis. Untuk apa?? Judi online? Mungkin itu yang kau sedang geluti. Karena kau remaja gila. Tak punya akal sehat. Padahal kau tahu, tabungan itu sengaja disiapkan oleh adikmu untuk biaya kuliah. Tabungan itu dibuatnya saat masih kelas 11. Dan sekarang, hanya tinggal hitungan hari, ia akan mulai memasuki jenjang universitas.

Pura-pura tobat. Kau bekerja menjadi karyawan sebuah toko baju. Kemana gajimu? Kau gunakan untuk apa? Yang ada, setiap minggu kau meminta uang untuk segera di transfer. iya, segera. Dengan berbagai alasan tentunya. Aku percaya, karena aku berfikir positif. Aku mempercayai bahwa pada akhirnya kau akan berubah. Menjadi sosok remaja yang baik dan meninggalkan kebiasaan burukmu.

Kau meminta uang. Tanpa menunggu lama aku akan mentransfernya. Itu semua karena aku percaya. Nasihat demi nasihat tak lupa pula kuberikan. Tak pernah kau berkata tidak atau pun menolaknya. Bahkan, kau juga yang berkata lebih baik dari nasihat itu. Tapi kenyataannya? Kau masih sama. Tak berubah sedikit pun. Munafik. Apa yang kau katakan tak sesuai dengan kelakuanmu.

Remaja tak punya otak.

Dan kini, kau pergi membawa motor. Pergi seminggu tanpa kabar. Dan kau pulang tanpa motor itu. Digadai. Dengan alasan ingin untuk biaya kos dan akan mulai bekerja bulan depan. Apa aku akan percaya?? Rasanya sangat sulit. Setelah sekian banyak kebohongan yang kau ciptakan dengan mulutmu.


Sekarang, silahkan pikirkan sendiri masalahmu. Aku tak mau lagi ikut campur. Karena akan membuat dada ini sesak memikirkannya. Bukan karena tak peduli. Hanya saja untuk menjaga hati. 

Jumat, 18 November 2016

MERANGKAI KEBERSAMAAN (Part 2)



Hari yang cerah dan berawan. Selong Belanaaaakkkk…….!!!  We are coming!

Pantai Selong Belanak, kabupaten Lombok Tengah akan menjadi tujuan wisata kami kali ini. Pantai yang terletak di sebelah barat pantai Kuta ini memiliki pasir yang berwarna putih. Air laut berwarna hijau dan biru dengan deburan ombak yang tidak terlalu keras bisa menjadi tujuan wisata pantai bagi yang ingin membawa anak kecil. Karena ombak yang tidak besar, Pantai ini juga dijadikan tempat untuk belajar bermain surfing bagi para bule yang berwisata ke Lombok.

Selalu telat. Hahay…. Kebiasaan yang sering dibiasakan. Jadwal pemberangkatan yang disepakati paling telat jam 9 ternyata molor juga. Tapi tak mengapa. Yang penting berangkat dan sampai tujuan dengan selamat.

Perjalanan yang panjang dan jauh. Karena ini pertama kalinya kami satu tim berlibur ke pantai tengah (biasanya kami memilih lokasi di Kabupaten sendiri. Bahkan sebelumnya, liburan terakhir kami bersama, di pilih lokasi di Kecamatan Sendiri. Wisata air Pancor Kopong).

Karena panjangnya jarak yang akan di tempuh, maka kami 16 orang (satu orang tidak bisa ikut) memilih menggunakan mobil. Berangkat dengan 2 mobil. 1 mobil untuk mas ikhwan dan 1 mobil untuk mbak akhwat. Mobil mbak akhwat berisi 6 penumpang akhwat dewasa, 2 orang apras dan satu orang calon bayi.  Sisanya berada di mobil mas ikhwan. Keseruan di mobil mbak akhwat tidak kalah disbanding keseruan di mobil mas ikhwan (kemungkinan sih..hehe)

“Pergi sama ibu2 itu ribet. Banyak berhentinya.” Kata sopir di mobil mbak akhwat (FYI, sopir di mobil mbak akhwat adalah koorcam tim kami). Perkataan yang memiliki sedikit alasan. Iya, hanya sedikit saja. Karena kami meminta berhenti hanya 2 kali. Satu kali berhenti untuk membeli makanan titipan salah seorang mas ikhwan dan sekali lagi meminta berhenti karena mbak akhwat kebelet pipis. Oiya, sampai setengah perjalanan, salah satu mbak akhwat juga mengalami mbok darat. Beruntung tidak sampai muntah di dalam mobil. Minyak Malaleuca Leucadendron menjadi minyak penolong baginya.

Tidak menemukan masjid terdekat untuk membuang cairan sisa dari dalam tubuh, maka kami berhenti di salah satu mart untuk menumpang toilet. Sekalian membeli air mineral gelas. Berhenti di mini market dan membeli beberapa minuman dingin untuk membasahi kerongkongan yang sudah mulai dahaga. Plus, beberapa orang lainnya juga membeli makanan ringan. Termasuk mbak akhwat yang mabok darat.

Setelah berhenti sebentar di mini market, kami pun melanjutkan perjalanan. And do you know what happened? Mbak akhwat yang tadinya mabok perjalanan pulih kembali setelah makan snack yang tadi dibelinya. Ternyata dia pusing dan mual karena lapar. Bukan mabok darat. Huaaa…. Jadi maksud loe apa???

Akhirnya, kami pun sampai tujuan setelah mendaki gunung lewati lembah (eh salah). Kemudian Mencari posisi yang nyaman dan mulai membuka perbekalan. Karena Jalan yang panjang dan berliku (lebay) membuat  cacing2 di perut membuat mini konser music keroncong .  Selesai makan dan solat zuhur, game pun akan segera dimainkan.

Game pertama, tikus dan kucing. Game yang mengasah konsentrasi pemain. Masing-masing pemain membawa satu sandal yang akan digunakan untuk bermain. Pemain membuat lingkaran besar dan instructor berada di tengah para pemain. Instructor akan membacakan narasi dan ketika ada kata “tikus” maka sandal yang dipegang oleh para pemain akan di over ke kanan dan jika ada  kata “kucing” maka sandal akan di over ke sebelah kiri. Pemain yang salah akan diceburkan ke pantai.

Pada game kedua, para pemain tidak menggunakan sandal lagi. ketika instructor membacakan narasi dan terdapat kata “Tono” maka pemain akan maju selangkah dan ketika ada kata “Tini” maka pemain akan mundur selangkah. Dan hukuman bagi para pemain yang salah pun adalah menceburkan diri ke laut.  Game pertama dan kedua mengasah konsentrasi para pemain.

Terik panas matahari tak menghalangi keseruan kami bermain. Gelak tawa kami menarik perhatian 2 orang bule yang lewat di depan kami saat itu. Mereka sempat berhenti tak jauh dari kami dan ikut tertawa. Mungkin mereka ingin untuk ikut bergabung dalam permainan kami, tapi maaf. Ini adalah liburan untuk merangkai kebersaam kami.

Game yang ketiga, sudah tidak mengasah konsentrasi lagi. ini adalah permainan kerja tim. 6 orang dalam satu tim akan memindahkan air mineral gelas yang terletak di tengah-tengah tali. Tali akan ditarik oleh para pemain untuk mengangkat dan memindahkan air mineral ke dalam kotak lain yang disediakan.
Tiga jenis permainan. Tinggal satu permainan lagi yang dicetuskan oleh sang korcam. Kemungkinan permainan ini adalah permainan syar’I (hehe…). Tetapi permainan ini tidak jadi dilakukan karena beberapa pemain sudah asyik berenang.

Sisanya, Mari segera menceburkan diri ke laut. Menikmati segarnya air laut. Tak lupa berfoto untuk mengabadikan moment hari ini.

Thanks Allah untuk semua nikmat_Mu. Indahnya tempat ini merupakan salah satu Maha karya ciptaan_Mu.  Terima kasih untuk teman-teman baik yang telah Engkau kirimkan. Semoga kami akan selalu kompak dan semoga kebersaan kami tidak sampai disini.

Alhamdulillah….

Terimas kasih temans..


Thanks for this day at Selong Belanak J

Minggu, 13 November 2016

Tentang Seorang Kawan


Pertama kali bertemu dengannya, pikiran negative mulai menghinggapi otakku. Bagaimana tidak, ia terlihat kemayu dan lembut, tetapi selalu menyangkal pendapat orang lain. Dan pastinya, sangkalan itu dikatakannya dengan suara yang sangat kecil. Mungkin hanya bisa terdengar oleh orang yang duduk disampingnya saja. Dan aku adalah orang yang duduk disampingnya saat itu.

Di terlihat seperti orang yang malas bekerja dan selalu ingin cepat pulang. “Ah…perempuan satu ini terlihat kemayu tetapi sangat menjengkelkan. Semoga aku tidak akan satu tim dengannya ketika bekerja nanti.” Ungkapku dalam hati. Sempat juga kata-kata ini kubisikkan pada teman lamaku, karena bosan mendengar semua sangkalan perempuan disampingku itu. Temanku hanya mengiyakan dan tertawa. Karena ia juga mendengar beberapa kalimat perempuan itu.

Waktu zuhur pun telah masuk. Kami break sebentar untuk melaksanakan solat. Rapat perkenalan pegawai lama dan baru akan dilanjutkan setelah solat. Karena masih ada yang belum selesai dibahas terkait dengan pembagian wilayah kerja.

Saat waktu solat, ia mulai menegurku. “Mbak, tinggal dimana?” tanyanya padaku. Aku memberi tahukan alamatku kepadanya. “ disekitarannya ada rumah kosong tak?” tanyanya lagi. “Kurang tahu, mungkin nggak ada. Emangnya kenapa?” aku balik bertanya. “Kalau ada, tolong kasi tahu ya. Saya ingin mengontrak rumah. Sekarang masih tinggal dengan mertua.” Jawabnya polos

Ahh… aku mulai tersentuh. Dia yang tadinya sudah kupanggil dengan perempuan kemayu yang menjengkelkan kini membuatku merasa iba. Ia yang sudah memiliki anak ternyata masih tinggal bersama mertua.

Hari-hari berlalu, aku semakin merasa iba kepadanya. Tidak hanya rumah yang tidak ia miliki. Ia juga tidak memiliki handphone dan motor. Dua hal yang menurutku paling penting untuk seorang pekerja lapangan seperti kami adalah alat komunikasi dan alat transportasi.
Menghubunginya sangat susah. Harus melalui handphone suaminya dulu. Itu pun kalau suaminya sedang di rumah. Tidak jarang nomer suaminya itu juga tidak aktif, mungkin handphonenya juga rusak.

Mertuanya adalah salah satu dari masyarakat penerima bantuan pemerintah. Rumahnya pun adalah hasil dari program bedah rumah. Jika keadaannya seperti itu, aku bisa membayangkan, wajar saja jika ia belum memiliki hp (walau pun alasannya saat ini  adalah handphonenya masih diperbaiki).

Semakin hari, aku semakin mengenalnya. Ia masih kemayu seperti saat pertama kali bertemu. Tetapi sudah tidak menjengkelkan lagi. Karena ia sudah tidak pernah terdengar ngomong sendiri. Ia juga terlihat giat bekerja. Ia sosok yang mudah bergaul, polos, lucu dan narsis di depan kamera (saat melihat kamera, ia selalu memasang gaya).

Dan akhirnya, aku telah salah menilai orang yang baru kukenal. 

Peace mbak…

Intinya adalah, aku harus belajar lagi untuk tidak cepat-cepat menyimpulkan tentang orang lain hanya dengan sekali tatap.

“Jangan Menilai Sebuah Buku Hanya Dengan melihat Sampulnya”




DESEMBER, BUKAN BULAN YANG TERTULIS DI LAUH MAHFUZ UNTUKKU


Sore Ahad waktu itu, tepatnya tanggal berapa aku lupa. Waktu itu aku menyaksikan acara Damai Indonesiaku dengan penceramah Ust Yusuf Mansur. Dalam doanya, beliau memanjatkan semoga para pemirsa bisa melaksanakan umroh pada bulan Desember tahun 2016. Aku termasuk pemirsa yang mengaminkan doa tersebut dengan setulus hati. Dari hati yang terdalam.

Desember menjadi bulan yang aku nanti-nantikan. Dalam doa aku selalu menyelipkan ingin untuk bisa menjadi tamu Allah pada bulan Desember tahun ini. Berdoa kepada yang Maha dan diskusi dengan ibu adalah bentuk usaha untuk bisa mencapai ingin itu.

KBIH Azzahro’ akan menjadi pilihan kami. Karena perjalanan ini bukan tentang traveling atau holiday, maka ilmunya harus dipersiapkan terlebih dahulu. Dan KBIH Azzahro merupakan KBIH yang melakukan manasik lebih dari 5 kali untuk jemaah yang akan berangkat bersamanya dan KBIH ini juga akan berangkat pada bulan Desember, sesuai dengan apa yang telah ku harapkan.

Yupz, disaat hati sudah semakin mantap dan biaya insyaAllah telah terkumpul, ibu memutuskan akan berkonsultasi dengan pembimbing KBIH pada hari sabtu sore setelah acara pengajian mereka bubar. Ternyata pada hari sabtu, hujan tak kunjung reda. Sehingga apa yang telah direncanakan ditunda.

Ahad, 13 November 2016 ibu menelpon salah satu staf KBIH untuk menanyakan tentang keberangkatan bulan Desember. Dan ternyataaaa…….. pendaftaran untuk bulan Desember telah ditutup. Para jemaah sudah mulai melakukan manasik dan insyaAllah siap untuk berangkat.  Untuk bisa ikut di KBIH ini harus menunggu sekitar 5 bulan lagi yaitu pada bulan Rajab. Dan sekarang masih pertengahan bulan Safar.

 Semua yang aku rangkai dalam angan tak bisa menjadi nyata pada bulan Desember. Doaku untuk bisa berumroh InsyaAllah akan dikabulkanNya, tetapi bukan di bulan Desember ini.  Aku harus menunggu 5 bulan lagi.

5 bulan kedepan, apakah nyawaku masih di dalam raga? Entah lah. Karena hanya Dia yang Maha menggenggam nyawa semua hambaNya.

 5 bulan ke depan, apakah aku masih sehat? Entahlah, karena hanya Dia yang memberi kesehatan.  

5 bulan ke depan, apakah aku masih diberiNya waktu dan kesempatan untuk menjadi tamu di BaitNya? Entah lah. Semoga aku bisa menjadi salah satu dari manusia pilihan yang akan memenuhi undangan ke BaitNya.

Lantas, bagaimana dengan statusku? Apakah 5 bulan ke depan statusku telah berubah?? Entahlah. Karena hanya Dia  yang Maha Tahu. Dia yang Maha mengatur semua urusan mahlukNya.

Dalam masa penantianku yang 5 bulan ini, semua bisa saja terjadi dengan ke Maha Kuasaan Allah. Jika Dia berkata “Kun” maka semua akan terjadi. Yang perlu untuk aku lakukan adalah belajar dan terus berusaha memperbaiki diri. Mungkin saat ini aku masih terlalu kotor untuk bisa menjadi tamu istimewa itu. Ini adalah waktuku untuk membersihkan diri, membersihkan hati dan pikiran agar aku semakin mendekatkan diri kepadaNya.

Be positif thingking, mungkin masa 5 bulan ini adalah waktu untuk bermuhasabah diri agar aku bisa menjadi wanita suci. Mungkin dalam masa penantian ini, statusku pun akan diubah oleh Allah dengan mendatangkan lelaki yang telah dipilihNya untukku. Semoga…

Mungkin dalam catatan kehidupanku di Lauhul Mahfuz, umroh pada bulan Desember tahun 2016 tidak tercetak.

Bersabar dan bersyukur. Karena Dia adalah yang Maha Mengatur.


Scenario yang dibuat olehNya pasti indah….

Rabu, 09 November 2016

Merangkai Kebersamaan, 8 Menjadi 17


“Tak perlu jauh. Yang penting kebersamaan.” Kata seorang teman

Iya, perjalanan kali ini adalah perjalanan pertama kami ber 17 orang. Yang awalnya kami hanya berjumlah 8 orang. Setelah ditimbang2 (mengingat bahwa kami memiliki seorang teman dengan kategori angka 1), maka diputuskanlah bahwa kami akan melakukan holiday pertama ber 17 orang ke tempat yang paling dekat. Tak perlu mengeluarkan energy lebih untuk menjangkaunya karena masih dalam kecamatan.

Menunggu,

Perjalanan yang awalnya dijadwalkan pada jam 8 pagi tak sesuai dengan rencana, Karena adanya beberapa kawan yang masih memvalidkan pekerjaan yang masih error. Factor lokasi yang tidak jauh membuat waktu menunggu yang lebih dari 2 jam tak menjadi masalah. Menunggu, diisi dengan tertawa dan bercanda bersama.

Sekitar 10 menit berkendara dengan kecepatan rendah, kami pun sampai ke lokasi. Yup… wisata air pancor kopong (haha… dekat dan tumben)

“Bruuugh!!!” Ah…. Ternyata kaki saya salah pijakan. Jalan setapak, tanah dan ditumbuhi rumput membuat mata saya tidak jeli melihat parit. Parit dengan lebar kira2 hanya sesiku dan saya pun terjerembab ke dalamnya. Beruntungnya lebar parit hanya sesiku, hanya badan saya yang masuk kesana sehingga badan saya tidak tertindih motor (selalu berusaha mencari keuntungan dibalik setiap peristiwa. Cieeeh.. Ceritanya anak sholeh…hahaha). Merasa lucu, karena saya melihat 3 orang didepan saya kaget. Hihihi

Finaly, setelah berjalan turun tangga dan melewati sawah2, kami pun sampai di lokasi yang agak sepi. 

Eit… bukan untuk apa2 ya. Hanya untuk bakar2 ayam saja.

Bercanda. Tertawa.  Bakar2 ayam. Makan. Menikmati segarnya air terjun. Dan tentunya Bersama teman2 lama dan teman2 baru.

Thanks for this day. Semoga kebersamaan kita tidak sampai disini kawan.






Minggu, 30 Oktober 2016

Engkau Menamparku dengan Sangat Lembut



Selasa, disiang yang sangat panas menjelang waktu zuhur aku duduk dibawah pohon. Menikmati buaian angin sepoi untuk menghapus keringat yang keluar melalui pori kulit. “Alhamdulillah, betapa sejuknya angin ini”. Bisikku dalam hati. Setalah berjalan dibawah terik yang sangat panas, hembusan angin ini terasa seperti tiupan angin surga.

Mataku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mobil-mobil yang terparkir sudah mulai meninggalkan lapangan bola yang hari ini dijadikan arena parkir dadakan. Iya, hari ini adalah hari istimewa bagi mahasiswa-mahasiswi yang sudah berupaya maksimal untuk menyelesaikan skripsinya. Perhelatan akbar, acara wisuda  satu-satunya universitas negeri di kotaku.

Sampah-sampah berserakan di atas rumput-rumput yang sudah mulai tumbuh kembali. Setelah sekian bulan rerumputan menguning karena tak ada hujan yang menyiraminya. Mulai dari sampah plastic, bungkus es krim, kertas-kertas nasi dan sisa-sisa buah. Ah… kebiasaan yang masih melekat pada kebanyakan orang. Membuang sampah sembarangan.

Pada acara wisuda, hanya ada 2 orang pendamping yang bisa memasuki ruangan tempat acara. Sisanya, rombongan keluarga yang ikut untuk merayakan acara tersebut menunggu di luar. Duduk menunggu di taman, jalan-jalan atau hanya berdiam di mobil. Nah, rombongan keluarga ini lah yang memproduksi sampah-sampah yang berserakan di jalan, taman dan tempat parkir. Karena kebiasaan yang terjadi di kotaku adalah pada setiap acara wisuda, wisudawan atau wisudawati tidak hanya didampingi oleh kedua orang tua, tetapi keluarga besar juga akan ikut menghadiri acara tersebut walau hanya menunggu di luar. Setelah acara selesai, barulah mereka akan merayakan acara ke pantai atau tempat lainnya.

Sambil bercakap dengan kawanku, aku menyandarkan tubuhku di tembok. Menghirup angin sepoi dari pohon rindang di dekatku. Entahlah, aku tidak tahu nama pohon besar ini. Kemungkinan pohon ini adalah pohon sengon. Tetapi usia pohon ini mungkin sudah lebih dari sepuluh tahun, jadi aku ragu kalau ini adalah pohon sengon.

Baru beberapa menit kami menikmati angin ini, seorang pemulung tua berhenti di depan kami. Memungut sampah-sampah plastic dan memasukkannya kedalam karung besar yang dibawanya. Aku masih asyik menikmati hembusan angin surge ini. Sedangkan Echi, bangkit dari duduknya dan mendekati perempuan tua ini. Echi adalah nama yang sedang bersamaku kini.

Tangan Echi mulai mengambil sampah-sampah plastic dan memasukkannya kedalam karung perempuan tua itu. Sedangkan aku masih bersandar di tembok dan kini mataku melihat ke arah mereka. Setalah sampah plastic yang disekitar mereka telah habis, Echi mulai bercakap-cakap dengan perempuan tua itu. Walau pun jarak kami hanya beberapa meter, tetapi aku tidak mendengar percakapan mereka. Mereka terlihat akrab dan saling tersenyum (inilah gaya khas Echi. Ia sangat ramah kepada setiap orang).  Saat perempuan tua itu bangun, Echi mengambil tangannya dan memberikan Sesuatu yang aku yakini itu adalah uang. Perempuan itu menolk dengan halus, tetapi Echi terus saja menyodorkan uang itu kepadanya. Sampai akhirnya perempuan tua itu mengambilnya dan dari mulutnya keluar kalimat yang sangat jelas terbaca olehku. “Terima kasih” ucapnya sambil tersenyum. Echi hanya mengangguk dan tersenyum melepas kepergian perempuan tua itu.

Tiba-tiba aku merasa kasihan kepada diriku sendiri. Echi, seorang yang terlahir sebagai piatu dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan sangat mudah memberi. Ia sangat ringan tangan. Selalu memberi walau pun tidak diminta. Hatinya sangat sensitive jika melihat seorang pemulung atau pengemis yang sering kami lewati. Sedangkan aku??? Sangat jarang memberi. Bahkan mungkin tidak pernah.

Aku yang telah diberi kecukupan olehNya seperti lupa bersyukur. Semua nikmat yang tak bisa terhitung tak pernah aku syukuri. Orang tuaku masih lengkap. Keadaan ekonomiku cukup. Aku sudah bekerja dengan salary yang lumayan besar. Semua nikmat itu membuat aku abai dan lupa untuk melihat kepada sekitarku.

Semakin banyak yang Dia beri kepadaku, membuat tanganku semakin erat menggenggam. Semakin encer otakku untuk mengkalkulasikan nominal-nominal yang kini aku genggam erat, hingga untuk memberi pun aku masih menggunakan kalkulator cipataan manusia yang jika dikurangi hasilnya akan semakin sedikit.

Aku termenung melihat kejadian di depan mataku. Seorang teman yang sangat tangguh karena telah berhasil melewati berbagai cobaan besar yang dilaluinya memberi kepada seorang yang tak dikenalnya. Memberi dengan ikhlas dan dengan senyum tulus. Padahal aku sangat tahu bagaimana kondisi ekonominya saat ini.

Oh Allah. Bagaimana denganku? Sudahkah aku memberi setulus itu?? Bahkan untuk melemparkan senyuman kepada para pemulung atau pengemis pun aku tak pernah.

Aku malu. Aku malu kepada diriku sendiri. Malu kepada temanku. Bahkan aku sangat malu kepadaMu. Engkau telah memberiku cukup, tetapi aku selalu merasa kurang dan semakin menggenggam lagi dan lagi.


Kini, Engkau memperlihatkan kepadaku betapa tulusnya seorang yang hampir tak punya berbagi dengan tulus dan ikhlas kepada orang lain. Engkau memparku dengan kejadian ini. Menamparku dengan RahmanMu. Sangat lembut, hingga bukan sakit yang kurasa. Tetapi aku merasa malu dengan semua yang Kau beri.

Rabu, 28 September 2016

hindari prasangka

“JAUHILAH PRASANGKA, KARENA PRASANGKA ADALAH PERKATAAN YANG PALING DUSTA.” (HR BUKHARI MUSLIM)

Tanggal tua, isi dompet hanya tinggal kerak. Dalam dan tipis. Seperti akhir bulan pada bulan-bulan sebelumnya.  Tanggal 5 bulan berikutnya masih tingga seminggu lagi, tetapi keuangan sudah tidak bisa diajak kompromi.

Akhirnya, pagi tadi saya mencoba untuk membuka dompet warna hijau yang isinya sudah dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan  pertemuan kelompok (berhubungan dengan pekerjaan).

What????!!!! Dompet berwarna hijau isinya juga tinggal selembar. Hanya ada selembar uang berwana hijau. Iya. Rp 20.000. hanya selembaar ini lah yang bertahta di dalam dompet. otak saya berputar, mengingat-ingat kembali isi dompet warna hijau. Seingat saya, didalam dompet berwarna hijau masih tersisa uang 200rb an. Tapi kenyataannya sekarang, hanya tinggal selembar uang 20.000.

Beberapa hari kemarin saat akan membayar biaya fotocopy, saya masih mellihat lipatan uang nominal 100.000 didalam dompet. setelah itu, dompet saya masukkan kembali ke dalam ruangan kecil di dalam tas (sengaja saya pisahkan tempat menaruh dompet yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari dengan dompet yang berwarna hijau)

Saat kemarin, saya melihat resleting tas (bagian tempat menaruh dompet yang berwarna hijau) terbuka. Tetapi tak ada pikiran bahwa isinya sudah raib.

Baru tadi pagi, saat membutuhkan uang, saya baru membuka dompet warna hijau untuk meminjam isinya dulu. Tetapi disana hanya tersisa selembar warna hijau. lantas, kemana 2 lembar nominal 100.000??

Bayangan wajah 0rang-orang yang ditemui beberapa hari terakhir ini bermunculan. Prasangka atau dugaan-dugaan mulai terlontar dengan mudahnya. Tak ada bukti. Tak ada cctv. Jadi, hnya sebatas prasangka tak berdasar.

Ah…. Enaknya menuduh orag sembarangan. Dengan tidak ada bukti. Otak saya mulai menyebut orang-orang yang menjadi terduga. Oh Allah, padahal hadits nabi tentang tak boleh berprasangkat sudah saya hafal diluar kepala. Tetapi masih saja saya lakukan ketika terjadi sesuatu.
Astagfirullah hal adzim

Sudah, ihklaskan saja. Semoga nanti aka nada ganti yang lebh baik . dan jjangan ada prasangka lagi  (sisi angel saya mulai berkata).

Jika memang ada orang yang sengaja mengambilnya, semoga ia sadar dan kembali ke jalan yang benar.



Sabtu, 24 September 2016

8 yang menjadi 17

“8”  Salah satu angka yang saya suka. Angka yang tak berujung, selalu bersatu dan tak terhingga. Bukan merupakan suatu kebetulan (karena semua sudah tertulis dalam lauh mahfuz_Nya), dalam bekerja, tim saya berjumlah 8 orang. 8 orang dengan karakter yang berbeda disatukan dalam suatu pekerjaan menjadi tim yang Benar-benar kompak. Ritme yang santai dengan hasil yang pasti. Saling mendukung. Tidak mengumbar aib anggota tim. Bekerja sama, saling membantu dan tidak saling berkompetisi. Dan tentunya tidak ada yang saling merasa superior.

8 orang dalam satu tim yang low profile, karena tidak pernah memposting hasil pekerjaan atau pun proses bekerja yang sedang dilakukan,  sering membangkang (eits, tentunya bukan dalam hal yang negative). Membangkang kami hanya untuk sesuatu yang bengkok atau bercabang. Kami bukan tim yang mendukung sesuatu yang membelok. Lebih baik kami dicela oleh tim lain daripada harus menelan mentah-mentah kebengkokan yang dilalukan. 
Lurus? Bisa dibilang iya. Walau pun pada akhirnya kami sering mengalah karena terdesak. “shock terapi” merupakan alasan pembangkangan (sementara) yang kami lakukan. Itu semua agar mereka berfikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah dan kami tidak mau memuluskan langkah kesalahan mereka.  

Dua hari terakhir, angka 8 ini  berubah menjadi 17. Penambahan 9 orang anggota tim baru membuat angka yang tak berujung ini berubah. Akankah kekompakan angka 8 ini akan masih tetap? Bekerja sama, saling mendukung dan pembangkang akankah masih akan tetap kami lakukan dengan jumlah tim yang kini telah bertambah banyak?

17 bukan angka yang sedikit. 17 karakter yang berbeda akankah bisa bersatu seperti bersatunya 8 karakter sebelumnya?

Dua hari melalukan pengamatan (dalam diam) membut saya tidak begitu yakin bahwa kami akan sekompak sebelumnya. Ada anggota tim yang terlihat superior, suka memerintah, terlalu santai (baca; males), dan entah lah.


Walau pun begitu, saya akan tetap berfikir postif (karena saya mempecayai Tuhan), Semoga saja seiring berjalannya waktu akan banyak ditemukan sesuatu yang positif dari mereka. Angka 17 akan bisa seperti angka 8 yang menjadi  lebih sempurna dari angka 8 sebelumnya.  

Kamis, 22 September 2016

Ini Hasil Karyaku, Mana Hasil karyamu :)

Alhamdulillah, ini lah hasil karyaku yang pertama. Baju batik kurung. Jahitan yang belum rapi, serong kiri-kanan tak beraturan.

Bangga?? Sudah pasti. Ini lah hasil belajarku yang belum sebulan. Baru beberapa kali pertemuan, guru jahitku sudah mulai mengajarkan cara membuat baju kurung yang langsung diaplikasikan menggunakan kain batik.

Ukuran badanku lah yang digunakan untuk membuat baju kurung ini. Tetapi, karena saya adalah seorang pemula, akhirnya baju hasil jahitan yang seharusnya pas dibadan karena sudah diukur menjadi tidak pas. Bagian kerong terlalu kecil. Akibatnya,  susah memakai dan membuka baju.


Tak  apa lah. Ini baru awal. Kedepannya harus lebih teliti dan lebih baik lagi. Semangat belajarrr :)


bagian leher baju yang paling sulit untuk dijahit


penampakan bahian depan baju


bagian kerong baju, merupakan bagian tersulit juga selain leher baju. karena saat menjahitnya harus muter-muter dulu 


motif depan baju kurung 


penampakan bagian belakang baju

Selasa, 20 September 2016

Masih, Menunggu yang Tertulis

Kesabaranku masih diuji. Kata-kata rayuanku dalam bisik malam masih belum terkabulkan. Sosok yang akan menggenapkan hidupku belum juga dikirim oleh_Nya. Ya, saat ini aku masih menunggu kiriman dari_Nya. paket lengkap (untuk dunia dan akhiratku) yang telah aku bisikkan kepada_Nya masih kunantikan. Sampai kapan? Entahlah. Aku juga belum bisa menemukan jawabannya.

Saat ini, aku masih dalam kesendirian, menunggu sosok yang telah tertulis lauh mahfuz datang memintaku kepada kedua orang tuaku. sosok yang akan menjadi halal bagiku setelah ijab kabul. sosok yang kepadanya surgaku akan berpindah. sosok yang akan membawaku kepada kebagiaan dunia dan akhirat.

Tak tanggung-tanggung. aku meminta paket lengkap dari_Nya. Bukan hanya seseorang yang unggul dalam kehidupan dunia, tetapi juga unggul dalam akhiratnya. seseorang yang bisa mengajarkanku cara mencinta Tuhan dan Nabiku. seorang baik yang akan mempertanggungjawabkanku tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

"Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Begitu pun sebaliknya, Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik." 
Itulah janji Tuhanku. Aku percaya itu. Karena Allah tidak akan pernah mengingkari janji_Nya. Maka saat ini, aku pun sedang berusahan untuk memperbaiki diri. Tidak, bukan hanya karena ingin mendapatkan laki-laki baik itu saja. Tetapi aku juga ingin mendapatkan Ridho Tuhanku dan setidaknya membuatku lebih dekat dan lebih mengenal Tuhanku lagi. 

Allah. Aku mengharapkanMu untuk memilihkanku lelaki paket lengkap yang aku telah bisikkan kepada_Mu. karena Engkau yang menciptakan kami, maka aku percaya bahwa Engkau pasti tahu siapa lelaki paket lengkap itu.

Allah, aku mohon, diusiaku yang menuju 28 tahun ini, pertemukan aku dengannya. Bukakan jalan bagiku untuk bertemu dengannya dan ringankan langkakah kakinya untuk datang melamarku, menjadikanku ibu dari anak-anak yang akan menjadi pembela agama_Mu

Aku harus benar-benar memupuk kesabaran. karena keinginanku sosok yang memiliki paket lengkap, maka akupun harus memperbaiki diri menuju paket itu juga. 

Yang terbaik selalu muncul belakangan, Insyaallah.

Sabtu, 17 September 2016

Nikmatnya Memakan Bangkai

Begitu anyir terasa, membangkitkan selera bagi setiap orang yang menikmatinya. Daging yang begitu empuk hingga ke tulang-tulangnya membuat orang tak perlu repot untuk mengunyah lebih lama sebelum ditelan. 

Tetapi itu hanya bangkai. iya, bangkai. kita terlalu asyik menikmati makanan yang ada dihadapan kita. mengunyah dan menelan setiap potongan yang telah tersaji. tetapi, kita lupa bahwa yang kita makan itu hanyalah bangkai. Bangkai saudara-saudara seiman kita.

Disaat kita terlalu sibuk  menjadi korektor bagi orang lain dan bahkan membuat kita menjadi lupa untuk mengoreksi diri sendiri, maka inilah yang terjadi. kita akan menjadi pemakan bangkai itu.

Mata yang selalu terbuka lebar untuk melihat setiap hasil yang diciptakan oleh seseorang. Entah hasil tersebut merupakan produk yang  berhasil atau pun produk gagal membuat kita lupa untuk melihat bagaimana behind the scane dalam pembuatan produk tersebut. Yang paling penting adalah HASIL. Jatuh bangun dan usaha mati-matian seseorang dalam membuat hasil tersebut menjadi sesuatu yang alpa dalam pandangan kita. 

Korektor yang sempurna bagi orang lain, itulah sifat yang sering menyertai kita.

Oke, produk yang berhasil dan membuat bangga, akan menjadi sesuatu yang akan dielu-elukan oleh setiap orang. segala macam pujian akan terlontarkan. walau pun mungkin akan ada segelintir orang atau sebut saja heters, akan selalu mencari setiap celah kesalan dari keberhasilan orang tersebut untuk bisa dicaci. para heters ini akan menjadi pemakan bangkai? tentu saja.

Lantas, bagaimana dengan produk yang gagal? produk yang berhasil saja masih memiliki heters, apalagi produk yang gagal. segala macam omongan tentang orang yang menciptakan produk ini akan tersebar luas. bagai angin yang berhembus kencang. berbagai omongan negatif dari mulut ke mulut. omongan yang dilebih-lebihkan. berbagai prasangka mulai tersebar. alhasil, orang-orang akan mulai menyantap bangkai dengan nikmatnya. 
Hanya orang-orang yang mengingat Tuhannya lah yang akan bisa mengendalikan diri dari menyantap bangki tersebut.

Selalu saja kita focus pada hasil yang tercipta. kenapa kita tidak bisa melihat bagaimana proses orang tersebut untuk mencipta? hasil yang jelek pun (dimata kita) merupakan hasil maksimal yang telah diusahakan oleh orang tersebut. segala kemampuan telah ia curahkan. pikiran, tenaga dan waktu telah ia luangkan. tetapi jika produk yang tercipta tidak sesuai dengan keinginan kita, apakah harus kita menyalahkan dan menebar isu yang negatif tentang orang tersebut?? mereka telah berusaha maksimal. tetapi hasil akhir hanya Allah lah yang menentukan.


"Kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. padahal disisi Allah adalah besar" (An Nur:15)

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa kamu mengetahui keadaannya yang menyebabkan kau menyesal atas perbuatanmu itu" (Al Hujarat:6)

Just remember for my self.... dua firman Allah ini cukup menjadi pengingat agar kita tidak ikut menebar sesuatu yang belum kita ketahui keadaannya. sehingga menyebabkan kita menjadi pemakan bangkai itu. 

lebih baik, tanya langsung kepada orang yang bersangkutan tentang ihwal yang terjadi atau tanyakan kepada ahlinya. jangan hanya mengikuti dugaan orang-orang yang tidak berpikir panjang.

jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta (HR Bukhari Muslim)


kebenaran abadi ada pada fiman Allah dan sabda Nabi Muhammad. maka berpeganglah pada keduanya.


Jumat, 16 September 2016

Assalamu'alaikum.....

Blog baruuu......
semoga bisa lebih kreatif lagi menggerakkan keyboard2 laptop. blog baru harusnya menjadi semangat baru kan? hemm... semoga saja.

Walau pun masih menggunakan judul yang sama " LEJITKAN MIMPIMU" tetapi deskripsi blog sudah berubah menjadi "Dan bersandar hanya kepada yang Maha" 

semoga bisa menebarkan kebaikan dan bisa bermanfaat :)